Setiap orang memiliki kemerdekaan untuk memilih, meskipun sebuah pilihan akan ditentukan oleh berbagai faktor. Termasuk pilihan untuk menentukan dimana, kemana dan bagaimana seseorang menjalani kehidupan. Rasa sukar sempat menghampiri ketika menentukan apakah akan tetap tinggal di desa atau mengikuti jejak para remaja/pemuda untuk mengejar mimpi di kota besar.
Sebagian besar menjadi generasi milenial yang baru menyelesaikan pendidikan atau usia remaja, pilihan meninggalkan kampung halaman dirasa lebih aman karena menurut anggapan sulitnya mendapatkan matapencaharian yang stabil baik secara pendapatan maupun karir termasuk karyawan baik swasta maupun plat merah.
Tantangan sulitnya mengembangkan diri di desa justru akan berdampak pada perkembangan di desa itu sendiri karena kebanyakan dari generasi milenial seolah-olah hanya menjadikan desa sebagai tempat untuk mereka mudik di sela-sela libur kerja dari kota. Bukan menjadikan kampung halamannya sebagai Medan Juang untuk mereka mengembangkan dan mengembangkan desa dengan potensi yang ada.
Meskipun tidak dipungkiri bahwa butuh keyakinan yang kuat ketika seorang pemuda bisa meniti masa depan yang cerah dengan tetap tinggal di desa. Karena konsekuensi yang harus diterima ketika seorang pemuda bertahan di desa bahwa ia harus berjuang untuk menciptakan masa dan warga desa dengan menggali potensi yang ada di desa yang berbasis pertanian, perikanan, ekonomi kreatif dan potensi lainnya yang masih dibutuhkan proses kreatif yang panjang. Bukan menjadi pekerja di kota yang dijamin karir dan pendapatannya.
Ditulis oleh: Oji Fahruroji
Tidak ada komentar:
Posting Komentar