Sabtu, 13 Agustus 2022

Milenial Desa, Dulu & Sekarang

Apakah kamu pada masa anak-anak punya cita-cita mengembala kambing? Jika ya fiks kamu anak desa
Meski tidak semua anak desa punya piaraan kambing agar selepas pulang sekolah bisa mengembalakannya ke hutan namun rata-rata kami tetap pergi ke hutan untuk bermain di alam bebas bukan medan permainan ala mobile legends ya.

Peperangan anak-anak desa dulu menggunakan senjata bambu kecil dengan pelurunya yaitu buah kecil yang tentunya tidak berbahaya yang pasti juga tidak harus mengusap layar ponsel untuk memilih senjata namun semuanya kami buat sendiri dari alam.

Dulu kami tidak mengenal cita-cita menjadi kreator Tiktok biar bisa punya uang jajan yang ada kami pegi ke hutan untuk memungut buah melinjo (kalau dapat banyak bisa dijual) mencari pucuk paku, mencari ikan di sungai dengan sair (tampah), dulu anak perempuan di desa lebih senang main masak-masakan ataupun main emprak belum lancar joged di Tiktok. Sore hari berkumpul di lapangan tengah kampung untuk bermain dari main Klereng, gatrik, boy-boyan, balap ban-banan atau bermain bola yang terbuat dari plastik dan tanpa wasit serta aturan seperti memakai sepatu apalagi kaos tim yang penting kuat lari tak berapa persen lagi sisa baterai seberapa kuat RAM handphone.

Ketika hari menjelang malam semua permainan harus dihentikan dan pergi ke sungai untuk mandi bersama, bukan karena di rumah tidak ada kamar mandi di sungai lebih. 

Ketika bedug magrib tiba pengaturan sarung, baju Kokok dan peci hitam, anak-anak di desa sudah berkerumun di dekat mikrofon untuk solawatan bersama ada juga yang utama perang sarung (namun tidak sampai merenggut nyawa seperti yang terjadi tahun 2022 di Banten). Selepas magrib kami pergi mengaji ke guru masing-masing dan kami biasanya sudah menyepakati perjanjian akan bertemu kembali untuk bermain petak umpet setelah pulang mengaji bukan janjian bertemu di dalam permainan online seperti saat ini.

Semuanya benar-benar telah berubah seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang juga mengubah pola hidup dan cara berpikir generasi milenial saat ini. Namun perubahan yang terjadi bukan untuk ditolak namun tetap memiliki agar milenium tetap dekat dengan kearifan lokal desa agar lingkungan dan karakter terhadap pekarangan mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar